“Sepak Terjang Bacharuddin Jusuf Habibie Sebagai Aktor Komunikasi Politik”

201810415132_Andita Dwi Santhi_Komunikasi Politik

“Sepak Terjang Bacharuddin Jusuf Habibie Sebagai Aktor Komunikasi Politik”

Habibie terlahir sebagai anak keempat dari delapan bersaudara dengan seorang ayah bernama Jalil Habibie dan ibu bernama RA Tuti Marini Puspowardojo pada 25 Juni 1936. Jalil merupakan seorang ahli pertanian dari etnis Gorontalo, sedangkan Tuti dari etnis Jawa. Nama Habibie sendiri merupakan sebuah marga di Gorontalo. Sebelum berkuliah dan bekerja di Jerman, Habibie menempuh pendidikan jenjang atas di SMA Kristen Dago Bandung dan belajar keilmuan teknik mesin di Fakultas Teknik Universitas Indonesia Bandung (sekarang Institut Teknologi Bandung) pada 1954.

Di Jerman, Habibie melanjutkan studi teknik penerbangan, spesialisasi konstruksi pesawat terbang, di RWTH Aachen, Jerman Barat. Di sana, dia menerima gelar diplom ingenieur pada 1960 dan gelar doktor ingenieur pada 1965 dengan predikat summa cum laude. Di tengah pendidikannya di Jerman, dia menikahi Ainun pada 12 Mei 1962 di Bandung. Dari hasil pernikahan keduanya, lahirlah Ilham Akbar Habibie dan Thareq Kemal Habibie. Habibie pernah bekerja pada sebuah perusahaan penerbangan yang berpusat di Hamburg, Jerman, Messerschmitt-Bölkow-Blohm. Dia kembali ke Indonesia pada 1973 atas permintaan Presiden Soeharto. Di era Orde Baru itulah, dia ditunjuk sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi (1978 sampai Maret 1998). Sebagai Menristek, Habibie menargetkan Indonesia sebagai negara agraris bisa menjadi negara industri melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Target itu ditumpukan pada industri strategis yang dikelola PT IPTN, PINDAD, dan PT PAL. Di sela jabatannya sebagai Menristek, Habibie terpilih pula sebagai Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) yang pertama. Pada 14 Maret 1998-21 Mei 1998, Habibie menjabat sebagai Wakil Presiden ketujuh dalam Kabinet Pembangunan VII di bawah Presiden Soeharto. Kemudian, dengan kondisi sosial politik saat itu, Habibie pun diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia (21 Mei 1998-20 Oktober 1999) menggantikan Soeharto. Selama kepemimpinannya, L Misbah Hidayat menilai setiap keputusan yang diambil Habibie didasarkan pada pengalaman hidupnya. Dalam bukunya berjudul Reformasi Administrasi: Kajian Komparatif Pemerintahan Tiga Presiden, Habibie ditulis Misbah telah melakukan perubahan dengan membangun pemerintahan yang transparan dan dialogis. Habibie sempat menetap di Jerman pascalengser sebagai presiden.

Namun, dia kembali ke Indonesia ketika ditunjuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai penasihat Presiden. Habibie juga mengembangkan industri pesawat terbang di Batam. Dia sempat menjabat sebagai Komisaris Utama PT Regio Aviasi Industri, sebuah perusahaan perancang pesawat terbang R-80, sebelum kemudian menyerahkannya kepada Ilham Habibie. Di usia senjanya kini, Habibie mulai mengalami gangguan kesehatan. Terakhir, Habibie masuk RSPAD pada 1 September 2019 dan ditangani tim dokter spesialis dengan berbagai bidang keahlian, seperti jantung, penyakit dalam, dan ginjal.  Setelah menjalnai perawatan intensif, BJ Habibie wafat pada usia 83 tahun di Paviliun Kartika Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto Jakarta, Rabu (11/9/2019) pukul 18.05 WIB.

Author: paul

1.051 thoughts on ““Sepak Terjang Bacharuddin Jusuf Habibie Sebagai Aktor Komunikasi Politik”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.