SEPAK TERJANG ANIES BASWEDAN SEBAGAI AKTOR KOMUNIKASI POLITIK

201810415139_Bedra Fazira Hamzah_Komunikasi Politik

H. Anies Rasyid Baswedan, S.E., M.P.P., Ph.D. adalah seorang akademisi pendidikan dan juga politikus Indonesia yang menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta untuk periode 2017 hingga 2022. Anies merupakan cucu dari Abdurrahman Baswedan yang merupakan pejuang kemerdekaan. Lebih dari satu tahun Anies Baswedan mengemban tugas sebagai Gubernur DKI Jakarta. Selama periode tersebut, banyak kebijakan yang dilaksanakannya, baik tindakan positif maupun yang mengundang kontroversi.

Sebelum menjabat sebagai orang nomor satu di DKI Jakarta, pria 49 tahun ini pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada periode 2014-2016. Kiprahnya di ibu kota memang belum genap dua tahun, apalagi sejak Agustus 2018 Anies terpaksa menjalankan sendiri roda pemerintahan DKI sepeninggal Sandiaga Uno, wakilnya yang mencalonkan diri sebagai wakil presiden di Pilpres 2019. Di balik sepak terjangnya membangun ibu kota, Anies ternyata punya sederet catatan prestasi selama berkarier sebagai akademisi hingga politikus.

  • Rektor Universitas Paramadina selama 8 tahun

Bermula dari tahun 1997, dimana Anies berhasil mendapatkan beasiswa Fulbright dari Aminef. Anies menempuh  kuliah lanjutan di bidang keamanan internasional dan kebijakan ekonomi di School of Public Affairs,  University of Maryland, College Park. Beasiswanya berlanjut hingga ke jenjang PH.d bidang  ilmu politik di Northern Illinois University. Selepas Anies berhasil menempuh studi di Amerika, tahun 2007 Universitas Paramadima Jakarta menempatkannya sebagai pucuk pimpinan. Gelar Rektor pun tersematkan.  Saat itu dia yang baru berumur 38 tahun dinobatkan sebagi rektor termuda di Indonesia. Jabatannya sebagai rektor berakhir pada 2015.

Saat menjabat, ia pernah mengusulkan akan membuat mata kuliah anti-korupsi. Menurutnya pendidikan anti-korupsi akan mampu memberantas korupsi. Hal tersebut diterapkan di kampus yang ia pimpin dengan bobot 2 satuan kredit semester (SKS).

“Kalau separuh mahasiswa di Indonesia belajar anti-korupsi, saya yakin barisan yang gencar memberantas korupsi akan meningkat secara signifikan,” kata Anies di penghujung 2008.

  • Penggagas gerakan Indonesia Mengajar dan TurunTangan

Ketika menjabat sebagai rektor, ia juga membuat dua gerakan sukarelawan bernama Indonesia Mengajar. Gerakan tersebut terinspirasi ketika ia berkuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM). Gerakan tersebut mengirim tenaga pengajar muda ke daerah-daerah yang membutuhkan tenaga pengajar.

“Kebutuhan guru atau tenaga pengajar selalu bertambah. Oleh karena itu, Indonesia Mengajar akan terus mengirim pengajar muda untuk memenuhi kebutuhan di daerah terpencil,” ujarnya seperti dilansir kantor berita Antara.

Selain menggagas gerakan Indonesia Mengajar pada 2009, Anies juga membuat gerakan TurunTangan pada 2013. TurunTangan merupakan sebuah organisasi yang bergerak dalam kegiatan sosial politik.

  • Pernah jadi Ketua Etik Komisi Pembrantasan Korupsi (KPK)

Pada 2013, Anies pernah ditunjuk sebagai ketua Komite Etik di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk mengusut pembocor draft surat perintah penyidikan (sprindik) mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum. Komite tersebut terdiri dari dua internal KPK yakni Abdullah Hehamahua dan Bambang Widjojanto dan tiga orang eksternal KPK yakni Abdul Mukhtie Fajar, Tumpak Hatorangan Panggabean, dan Anies sendiri.

  • Peserta Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat 2014

Anies mengawali kariernya di dunia politik dengan mengikuti Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat. Dia menilai konvensi yang dilakukan partai berlambang mercy saat itu lebih demokratis.

“Konvensi Demokrat lebih demokratis karena publik yang memilih,” kata Anies pada Januari 2014.

  • Ketua Juru Bicara Jokowi – Jusuf Kalla dalam Pilpres 2014

Saat Pemlihan Presiden 2014, Anies menerima tawaran sebagai Ketua Juru Bicara kampanye dari kubu Joko ‘Jokowi’ Widodo-Jusuf Kalla yang saat itu bertarung dengan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Dia saat itu beralasan ingin mendorong orang baik untuk mengelola pemerintahan.

“(Jokowi-JK) adalah kombinasi pasangan yang lebih berpotensi menghadirkan kebaruan dan terobosan,” kata Anies saat itu.

Jokowi-JK pun memenangi Pilpres dengan raihan lebih dari 70 juta suara atau lebih dari 53 persen sedangkan Prabowo-Hatta hanya mampu meraih lebih dari 62 juta suara atau lebih dari 46 persen.

  • Ditunjuk sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan

Anies ditunjuk sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Kabinet Kerja Jokowi-JK sejak 27 Oktober 2014. Anies menjabat selama 20 bulan sebelum akhirnya dicopot Jokowi untuk digantikan dengan Muhajir Effendy.

  • Mengalahkan Pertahanan dalam Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2014

Tiga tahun setelah dicopot Jokowi dari kursi menteri, Anies kemudian mencoba peruntungan dengan maju sebagai salah satu calon Gubernur DKI Jakarta. Saat itu ia berpasangan dengan Sandiaga Uno untuk bersaing dengan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY)-Sylviana Murni, dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat.

Dalam putaran pertama, Anies-Sandiaga hanya mampu berada di posisi kedua. Namun, dalam putaran kedua mereka mampu mengalahkan Ahok-Djarot yang merupakan calon petahana saat itu. Anies-Sandiaga mampu meraih lebih dari 3 juta suara atau 57,96 persen sedangkan Ahok-Djarot hanya mampu meraih lebih dari 2,3 juta suara atau setara 42,04 persen.

Author: paul