Sepak Terjang Gus Dur Sebagai Aktor Komunikasi Politik

201810415015_Dede Ramdhani Saleh_Penulisan Kreatif

Sepanjang Perjalanan Gus Dur dikenal sebagai tokoh yang membela minoritas. Walau pun banyak yang menilai minoritas yang dibela Gus Dur bukanlah dalam arti jumlah yang sedikit.

Sepanjang Orde Baru, komunitas muslim menjadi salah satu kelompok yang mendapat represi. Buntut enggannya ormas Islam menyetujui asas tunggal Pancasila versi Orba.

Secara politik, kelompok Islam begitu dipinggirkan karena dianggap mengancam. Salah satu kekerasan yang terjadi adalah peristiwa Tanjung Priok pada bulan September 1984. Puluhan atau bahkan ratusan orang tewas dalam insiden tersebut. Gus Dur mengkritik cara kekerasan yang dilakukan oleh aparat, bahkan sampai menghilangkan nyawa.

Pada saat itu tafsir asas tunggal Pancasila memang masih diperdebatkan. Tak berselang lama, pada Muktamar NU Situbondo, Gus Dur bisa menjembatani perdebatan yang tak pernah usai. Kata Gus Dur, agama dan Pancasila tak perlu dipertentangkan. Keduanya justru bisa saling mengisi. Maka NU menjadi Ormas Islam pertama yang menerima asas Pancasila, lalu diikuti oleh ormas Islam lainnya. Peristiwa berdarah itu ternyata disebabkan oleh penafsiran yang keliru perihal pemosisian Pancasila sebagai asas negara

Selain di Priok, pada tahun 1989 Gus Dur juga membela warga yang digusur di Kedung Ombo. Pada saat itu, Orba memiliki proyek pembangunan waduk bersama World Bank. Namun biaya ganti ruginya sangat tdk layak. Hanya Rp700 per-meter. Warga yg belum mau pindah, direpresi oleh aparat. Lokasi Kedung Ombo berada di 3 kabupaten (Sragen, Karanganyar, Grobogan). Proyek tersebut mengharuskan ribuan orang meninggalkan kampung halamannya dengan ganti rugi yg jauh dari kata layak. Namun sebagian warga menerima karena tidak tahan dengan perlakuan represif yang diterima.

Gus Dur juga pernah membela band Dewa yang mendapat polemik akibat logo Laskar Cinta yang dianggap mirip lafaz Allah. Dewa menggunakan simbol tersebut sebagai alas yang diinjak-injak. Front Pembela Islam menjadi kelompok yang menyuarakan bahwa Dewa telah melecehkan umat Islam. Bagi Gus Dur, persoalan tersebut hanyalah masalah kecil dan teknis.

Bagi Gus Dur, sekontra apapun dengan seseorang atau kelompok, tidak diperbolehkan diskriminatif. Apalagi sampai melakukan tindakan yang membahayakan jiwa seseorang. Pembelaan Gus Dur pada banyak kelompok mengajarkan kita untuk tidak bersikap diskriminatif dengan dasar apapun. Terutama bagi negara, konstitusi adalah harga mati yang harus dijalankan. Negara yang merepresi adalah negara yang tidak amanah terhadap konstitusi.

Gus Dur sangat menentang Orde Baru yang semena-mena. Namun di sisi lain, Gus Dur juga memiliki hubungan yang baik dengan Suharto. Gus Dur bisa membedakan sikap Suharto sebagai presiden dan sebagai individu.

Namun kita bisa belajar banyak dari Gus Dur yang melakukan sesuatu berdasar kemaslahatan rakyat. Di luar itu, ia akan bersahabat dengan ‘musuh’ politiknya. Seperti kata Gus Dur, satu-satunya tokoh di Indonesia yang layak jadi musuhnya adalah Soeharto. Itu pun masih dikunjunginya.

Author: paul

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.