Pro kontra nikah beda agama

PRO

Pernikahan beda agama

“Tuhan memang satu, kita yang tak sama. Tapi kalo tuhan memang satu kenapa nikah beda agama sulit di wujudkan ?”

  • Agama adalah hubungan pribadi dengan tuhan kan, yaudah pribadi sama tuhan. Gada org lain yg boleh ikut campur.
  • Rasa manusia juga yang bikin tuhan, so?
  • Setuju dengan nikah beda agama, tapi masyarakat yang ga setuju.
  • Ya kan di lihat bukan dari agamanya, tapi kan orangnya. Lagian Agama kan menuju ke hal yang baik dan begitu juga dengan menikah. Jadi?
  • Tuhan tuh satu, tapi cara mengimani-nya saja yang berbeda.
  • Cinta ga perlu berlandaskan dengan agama.
  • Selama yg menjalani nyaman, kenapa engga.
  • Semua agama mengejar kedamaian kan? Kalau bisa sama-sama damai kenapa engga?
  • Kita yakini yg kita jalanin itu sesuatu yg baik kan? Bukan yang jelek. Menikah kan?

Berikut adalah jawaban masing masing orang yang setuju terhadap menikah beda agama di Indonesia.

Bagi banyak orang, menikah merupakan suatu panggilan mulia. Di dalamnya ada cinta sekaligus tanggung jawab terhadap orang yang dicintai. Dalam pernikahan, seseorang menyatukan diri dengan seorang lainnya yang menjadi pilihannya untuk mencapai kebahagiaan bersama. Namun, tidak semua mewujudkan impian untuk menikah dengan berbagai alasan. Bahagiakah mereka? Bagi banyak orang, menikah merupakan suatu panggilan mulia. Di dalamnya ada cinta sekaligus tanggung jawab terhadap orang yang dicintai. Pernikahan idealnya merupakan sebuah muara dari sungai cinta/kasih sayang dan paduan komitmen antardua individu. Dengan demikian, perkawinan dapat diharapkan menjadi tumpuan kebahagiaan bagi pasangan yang menjalaninya.

Hampir setiap orang setuju bahwa menikah merupakan suatu panggilan mulia bagi mereka yang telah mencapai usia dewasa. Meski demikian, ternyata begitu beragam alasan orang memutuskan menikah. Alasan menikah karena cinta dari hasil penelitian Patterson & Kim itu merupakan alasan terbanyak, sama dengan hasil penelitian decade sebelumnya yang dilakukan oleh Pietropinto & Simenauer. Namun, persentase alasan cinta pada penelitian yang sebelumnya ini lebih besar, yakni 56% pada wanita dan 39% pada pria.

Sedangkan setiap agama punya rumusan masing-masing tentunya soal nikah beda agama. Di Islam, penafsiran soal boleh atau tidaknya bermacam-macam. Ada penafsiran ulama yang melarang mutlak pernikahan beda agama; ada yang memperbolehkan secara bersyarat yang membolehkan laki-laki Islam menikahi perempuan dari golongan ahlul kitab (Nasrani, Yahudi); Ada pula ulama yang menafsirkan bahwa pernikahan beda agama diperbolehkan. sementara itu dalam Undang-Undang Perkawinan No 1 tahun 1974 tidak ada pernyataan eksplisit mengenai pernikahan campuran (agama), yang ada hanya penjelasan soal pernikahan campuran kewarganegaraan. Biasanya, argumentasi ditentangnya pernikahan beda agama adalah dengan merujuk pada penafsiran Pasal 2 ayat (1) UU Perkawinan yang berbunyi, “Perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya itu.”

untuk mengetahui apakah sebetulnya pernikahan beda agama di Indonesia mungkin dilakukan… Kami bertanya pada aktivis LSM Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), Ahmad Nurcholish, yang hingga kini telah memberikan lebih dari 3000 konseling bagi pasangan beda agama dan telah berhasil memfasilitasi sekitar 827 pasangan beda agama di Indonesia agar menikah secara legal di Indonesia.  Selama ini kita menelan bulat-bulat bahwa hukum di Indonesai tidak memberikan celah bagi pernikahan beda agama. Nyatanya?

“Secara konstitusi sangat memungkinkan. Misalnya dalam UU Perkawinan No 1 tahun 1974, itu kan tidak ada pelarangan soal pernikahan beda agama,” kata Ahmad Nurcholish. “Di sana hanya diatur soal bagaimana pernikahan itu dilaksanakan, yakni harus sesuai dengan hukum agamanya masing-masing,”

Selain UU Perkawinan, dasar hukum soal perkawinan beda agama juga mengacu pada UU Hak Asasi Manusia No 39 tahun 1999. Di sana disebutkan paling tidak ada 60 hak sipil warga negara yang tidak boleh diintervensi atau dikurangi oleh siapapun. Di antaranya adalah soal memilih pasangan, menikah, berkeluarga, dan memiliki keturunan.

“Saya dari kecil enggak pernah suka dengan pengelompokan agama. Agama enggak menjadi jaminan untuk seseorang menjadi baik di mata siapapun,” kata Sabrina. “It’s not an easy decision to make, but hopefully, that would bring more peace on earth.”

kelompok PRO

Agnez P / 20180400033

Suci F / 20180400044

Vina G / 20180400029

Leave a Reply

Your email address will not be published.