Pengalaman Pertama kali Memiliki Telephone Seluler

201910415276_Zafiera Syafa Putri Indira_Teknologi Media Komunikasi

Saya ingin bercerita Pengalaman Saya pada saat memiliki Hanphone atau telephone seluler pada saat itu adalah, pada saat saya berada di kelas 4 SD. Awalnya saya pergi bermain dengan teman teman saya. Ketika saya sampai di tempat bermain, saya melihat teman-teman saya bermain Game pada Telephone Seluler mereka, terlihat asik sekali. Lalu, ketika saya bertanya tentang Game tersebut, mereka mengajari saya bagaimana cara bermain Game itu dan salah satu teman saya meminjamkan telephone genggam-nya kepada saya. Lalu saya dan teman teman bermain game di Telephone Seluler bersama-sama.

Ketika sampai dirumah, saya bertanya kepada ayah saya. “ayah, kakak ingin Telephone seluler, apa boleh ayah belikan kakak Telephone seluler?” Namun, jawaban ayah saya adalah, “Boleh, kalau kakak nilainya memuaskan, dapat ranking 3 besar ayah belikan Telephone Seluler untuk kakak.” begitu kata beliau, lalu saya dengan mudahnya menganggukkan kepala kepada ayah saya, seperti berkata “oke, deal ayah.” sejak saat itulah saya mulai giat sekali belajar. Yang awalnya saya bermain setiap sore, saya mengurangi waktu bermain saya untuk belajar.

Tibalah pada waktu saya mengikuti Ujian Semester Akhir. Saya mengerjakan dengan teliti, fokus dengan keyakinan serta usaha apa yang saya sudah pelajari dirumah. Ketika itu ujian menjadi teramat sangat mudah untuk saya. Dan setiap sampai dirumah sehabis ujian, saya selalu berkata kepada ayah, seperti “Ayah, kakak bisa ngerjain. Ujiannya mudah karena kakak belajar.” setiap saya mengatakan itu selalu ada senyum lebar di wajah ayah saya. Lalu, tibalah waktu saya pembagian rapot, awalnya saya tidak yakin sekali terhadap nilai saya, takut jika tidak sesuai dengan ekspetasi saya karena saya ingin sekali Telephone Seluler seperti yang sudah di janjikan oleh ayah saya. Namun, ketika nama saya dipanggil untuk penyerahan nilai kepada orangtua saya. Terlihat senyum yang mengembang di wajah ayah saya. Lantas saya bertanya kepada beliau, “Ayah, apa kakak berhasil?” lalu pada saat itu ayah saya memeluk saya dengan saat erat dan berkata, “kamu berhasil, nak. Selamat, ayah bangga sama kamu.” Dan pada saat itulah airmata saya jatuh di pundak serta dipelukan ayah saya.

Setelah pembagian rapot, saya langsung pergi ke tempat dimana menjual Telephone Genggam tersebut dengan langkah yang tenang, senyum bahagia di bibir ayah dan bibir saya tentunya. Saya dibelikan ayah saya telephone genggam tersebut. Ketika itu, saya berkata kepada ayah “terimakasih ayah, terimakasih banyak” beliau mendengar kalimat yang keluar dari bibir saya dengan senyum manis di pipinya, sambil berkata, “iya nak sama sama, jangan lupa harus tetap belajar ya. jangan main Game terus.” setelah itu, saya pulang ke rumah, bermain Game di telephone seluler saya dengan ayah, ibu dan adik saya. Begitulah kisah saya yang penuh perjuangan dan pengalaman saya untuk mendapatkan telephone genggam pada saat itu.

Related posts

Leave a Comment