Keluargaku

201810415042_Mae Manah_Penulisan Storytelling

Deskriptif

Terlahir di tengah keluarga sederhana. Membuatku terbiasa hidup pun dengan sederhana. Sejak kecil aku sudah biasa ditinggal. Bapa ibu kerja, keduanya bekerja untuk sama-sama memenuhi kebutuhan hidup keluarga ini. Aku memiliki tiga orang kaka, dua laki-laki dan satu kaka perempuan. Aku sendiri adalah anak bungsu, yaitu anak ke empat. Dalam keluarga, kami berempat sering sekali berantem. Apalagi waktu kecil, bapa ibu pasti sangat kewalahan mengurus kami berempat. Namun cinta mereka terhadap keluarga, selalu menguatkan mereka. Hingga, keras kepala nya kami berempat pun selalu bisa mereka terima.

Naratif

Pagi itu semuanya sedang sangat sibuk. Bapa sedang memanaskan motor matic nya. Ibu sedang menyiapkan sarapan untuk bapa dan anak-anaknya. Aku dan teh tini sedang beres-beres rumah. Sementara A Agus dan A febri sedang berebutan dasi, karena kebetulan hari ini adalah hari senin. Memakai dasi sangatlah wajib, karena saat upacara nanti, anak OSIS akan memeriksa setiap siswa, bagi yang tidak memakai atribut lengkap pastinya akan dikenakan sanksi.
Bapa yang mendengar keributan itu langsung menghampiri A Febri dan A Agus, lalu berkata “kalau masih ribut, kalian berdua gausah sekolah hari ini. Gantiin tugas adikmu saja, beres-beres rumah, sampai ke kamar mandi dan halaman belakang, rumput sudah mulai tumbuh tinggi”. A Febri dan A Agus hanya bisa diam. Lalu ayah kembali ke teras depan. Tak lama ibu menghampiri mereka berdua, karena hanya ada satu dasi, ibu lalu mencari dasi lainnya, karena memang seharusnya mereka berdua memiliki dasi masing-masing. Belum ada 5 menit ibu mencari dasi, langsung ketemu, ternyata ada di selipan lemari. Hal kecil seperti ini, pasti selalu ada dalam keluarga.

Eksposisi

Tinggal bersama dalam satu atap. Tempat yang akan selalu menerima walau seburuk apapun kita. Tempat yang akan selalu jadi tujuan pulang, sejauh apapun kaki melangkah. Keluarga, ya itu lah keluarga. Beranggotakan Ayah, Ibu, Kaka, juga Adik. Umumnya seperti itu. Namun ada pula yang hanya memiliki anak tunggal, tidak ada kaka juga adik. Tetap itu dinamakan keluarga.

Argumentasi

Banyak orang bilang keluarga adalah sebaik-baiknya tempat pulang. Namun, yang aku lihat sebenarnya tidak bisa dikatakan seperti itu juga. Banyak dari mereka yang justru takut untuk berada di tengah keluarganya. Alasannya berbagai macam, yang sudah pasti, ada satu kejadian buruk dimana hal tersebut membuat orang itu takut bahkan bisa trauma untuk berada dalam lingkungan keluarganya. Kita memang tidak pernah bisa memilih mau terlahir dalam keluarga seperti apa. Namun kita bisa memilih, mau tumbuh dalam lingkungan seperti apa.

Related posts

Leave a Comment