Intuisi dan Gawai

201910415109_Vickryah Ilma Rudantari_Penulisan Kreatif

Nama Saya Vickryah Ilma Rudantari Sukarya, Lahir di Purwakarta pada tanggal 19 April 2000. Saya percaya bahwa setiap nama adalah doa dan harapan orang tua agar saya dapat ”berpikir” dari apa yang dilihat dan didengar, olah dikepala, saring dan putuskan dengan ”ilmu” dan akal dalam hati untuk menjadi sebuah ”senjata yang tajam” dalam menjalankan hidup yang bermanfaat. Lalu saat saya merasa bahagia menjadi diri sendiri di tengah keramaian, saya dapat ”berkarya”, bebas berkreasi, bebas memberi warna apa saja dalam untuk hari indah penuh makna.

Dan saya pun sangat yakin, juga percaya bahwa sang pencipta telah menganugrahkan umat manusia panca indera yang dapat melihat, merasakan, meraba, dan mendengar. Apabila semua indera tersebut dapat kita olah dengan maksimal, maka dapat membentuk daya cipta. Pada dasarnya setiap manusia dibekali akal, pikiran, dan rasa. Akan tetapi tidak semuanya dapat menyadari akan kemampuan yang ada pada diri masing-masing. Setiap manusia itu pintar dan unik. Pintar dibidangnya masing-masing dan unik dalam bakat dan genetika bahkan sejak pertama kelahirannya. Namun, seringkali terjadi pertentangan antara pikiran dan perasan yang mengakibatkan seseorang tersebut enggan untuk mengasah potensi diri guna mempertajam INTUISI.

 Berbicara mengenai mempertajam intuisi, TEKNOLOGI KOMUNIKASI merupakan salah satu cara dalam mengasahnya. Kenapa? Karena semakin berkembangnya jaman, semakin bertambah maju pula teknologi yang ada. Saya jadi teringat saat pertama kali saya memegang Handphone pada saat kelas 3 SD. Sungguh sangat menyenangkan bermain dengan Handphone Nokia dengan screen yang masih hitam putih dan games ular juga notasi nada didalamnya. Sungguh sangat mengembirakan bermain itu semua. Namun karena ketidaktahuan saya mengenai tekonologi di masa itu, saya sering sekali di marahi mama karena pulsa yang baru diisi selalu habis dalam sekejap. Hingga pada akhirnya saya tau bahw ternyata pulsa mama menghilang karena setiap kali ada sms dari operator, saya selalu merespon “OK” hingga mengaktifkan ringtone yang membuat pulsa selalu tertarik habis. 

Singkat cerita. Handphone yang benar-benar saya punya untuk sendiri adalah HP Samsung champ warna putih saat kelas 6 SD. Saat itu hamper 1 kelas memilikinya dengan beerbagai macam warna. HP ini jelas sangat elegant dan lebih canggih. Karena kita bisa berfoto dan juga mendengarkan musik. Setiap hari ada saja musik yang saya download dan saat disekolah kita bisa bertukan musik dengan teman menggunakan bluetooth. Sungguh sangat memudahkan kita.

Saat memasuki SMP saya mendapatkan hadiah ulang tahun yang ke 12 yaitu sebuah HP blackberry. Ini merupakan HP yang lebih canggih lagi didalamnya karena ada fitur pesan yang lebih menarik yang kita kenal sebagai BBM. Fitur ini sangat unik dan buat betah, banyak emotikon yang dapat digunankan. Selain itu kita bisa membuat cerita/ status yang dapat dilihat oleh teman-teman satu kontak. Dalam proses berbagi musik pun lebih di mudahkan lagi, karena tanpa bertemu kita dapat mengirimkan musik hanya dengan jaringan internet. Berbeda dengan bluetooth yang kita harus bertemu terlebih dahulu.

Saat ini saya sudah menjadi seorang mahasiswa dan tumbuh menjadi dewasa. Perkembangan teknologi dalam gawai/ Hp saya lalui dan lewati. Banyak sekali merk HP dan fitur canggih didalamnya. Selain memudahkan penggunanya, tentu ada hal negatif pula dalam penggunaan teknologi ini. Gawai/ Handphone saat ini memiliki sisi gelap yang memannipulasi. Semuanya akan terlihat memprovokasi pemikiran tentang semua media dan hubungan masyarakat dan praktisi profesional. Aktivitas ini bisa menjauhkan interaksi nyata terhadap individu dan masyarakat. Terbukti saat ini banyak manusia acuh dan lebih peduli dengan  gawainya. Perkembangan teknolgi yang semakin maju membuat segalanya serba ingin cepat dan instan. Jiwa sosianya melemah, sebab merasa tidak butuh orang lain  dan cukup dengan teknologi sebagai solusinya. Jadi alangkah baiknya di era globalisasi yang pesatnya perkembangan teknologi komunikasi ini , kita tetap punya kontrol atas diri kita akan bisa menyeimbangkan teknologi dan realita.

Related posts

Leave a Comment