Ketika Trailer The Santri Digembosi “Santri Online”

Baru-baru ini publik dihebohkan dengan beragam komentar netizen terkait trailer Film The Santri. Ya, film racikan sutradara yang ngotot tembus hollywood ini menuai banyak kritikan pedas. Alih-alih menuai dukungan, Livi Zheng harus menghadapi caci maki. Kali ini lebih bombastis, film yang menggaet NU channel ini diyakini publik tidak melalui proses filterisasi sesuai syariat Islam. Trailer film tersebut juga dianggap tidak mewakili sepenuhnya budaya santri Indonesia. Adegan-adegannya disinyalir jauh dari syariat Islam yang seharusnya. Walhasil film ini berhasil menyabet predikat film liberal versi netizen sementara Levi Zheng harus rela menyandang “sutradara kafir” fenomenal. ‘Bagaimana bisa ia membuat film tentang santri, lha sutradaranya saja kafir”, kira-kira seperti itulah celetuk netizen.

 

Akun Instagram Oposisi Ideologis terang-terangan mengampanyekan boikot film ini.  Beberapa point kontroversial pun dikemukakan yakni:

1. Bahaya Aqidah.

Salah satu adegan dalam trailer yang dianggap membahayakan adalah memberikan tumpeng saat acara gereja.

2. Bahaya Moral.

Terdapat adegan Khalwat yaitu berdua-duaan antara laki-laki dan perempuan yang dianggap mendekati zina sehingga merusak moral dan citrsa santri.

3. Ikhtilat

Bagian akhir trailer,  Said Aqil Siradj terlihat begitu dempet bahkan tidak ada jarak dengan Livi Zheng. Itu termasuk ke dalam Ikhtilat (campur baur yang bukan makhrom) yang tidak diperbolehkan dalam Islam.

4. Berkiblat Ke Amerika.

Terdapat dialog “Pada hari santri ini, 6 yang terbaik diantara kalian akan terpilih untuk berangkat dan bekerja di Amerika Serikat,”. Tentu ini menjadi hal yang sangat aneh mengingat Amerika adalah salah satu negara yang memusuhi Islam. Bahkan Amerika lah yang pertama kali mempropagandakan Islam agama Teroris, dengan merekayasa tragedi 911. Sejak saat itulah muncul kata Terorisme dan radikalisme.

 

Pertanyaan Penulis

Pertama. kekuatan seorang Wirda Mansyur yang selama ini direpresentasikan sebagai muslimah gaul nan moderat dianggap tidak mewakili santri pada umumnya. Wirda yang merupakan anak Kiayi termasyhur Indonesia dipandang membahayakan aqidah lantaran kehadirannya ke gereja.

Sayangnya dialog Wirda yang mengatakan “Please accept this, the sign of love” luput dari komentar netizen. Padahal tumpeng, hijab dan dialog menjadi tanda-tanda yang dapat digali lebih jauh terkait nilai humanisme beragama. Surat Alkafirun yang menjadi dalil toleransi mengukuhkan nilai bahwa toleran tidak berdasar pada kehadiran ke gereja. Menjadi pertanyaan apakah Al Kaafiruun menjadi kaku dalam konteks tersebut?

Padahal kalau merujuk film Rudy Habibie yang digawangi Hanung Bramantyo, terdapat kemasan nakal dan ekstrim dimana seorang Habibie kesulitan mencari masjid, ia pun memutuskan untuk memasuki gereja dan memanjatkan doa kepada Allah untuk kedua orang tuanya. Namun tidak ada komentar pedas netizen atas aqidah Habibie bahkan hingga wafatnya beliau menjadi sosok cendekiawan muslim yang menjadi teladan.

Bahkan bila merujuk pada pandangan Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di  dalam Manhajus Salikin, yang mengungkapkan bahwa “Semua tempat boleh dijadikan tempat untuk shalat kecuali: (1) tempat najis, (2) tanah rampasan, (3) kuburan, (4) tempat pemandian, (5) kandang unta.

Artinya tidak terdapat larangan terhadap orang beribadah di gereja, meskipun beberapa ulama mengatakan makruh. Bila solat di gereja dikatakan mubah, mengapa keterwakilan Wirda ke gereja tanpa melakukan ritual apapun menjadi hal yang membahayakan aqidah?

Kedua, apakah tidak terlalu cepat ketika sebuah trailer film dengan cuplikan sepotong tersebut di katakan sebagai berkhalwat? Adegan perpisahan antara kedua insan dengan dibumbui dialog “kutitipkan tasbih dan tulisan ini untukmu, agar kamu selalu ingat Tuhan dan diriku”, ini pun luput dari pandangan netizen dan hanya berfokus pada kebersamaan putra dan putri di tempat yang sepi. Padahal frame ini menggambarkan bahwa kehidupan santri juga manusia. Bukan orang yang tidak luput dari dosa. Bahkan komunikasi santri putra dan putri ternyata dimungkinkan. Kehidupan santri digambarkan tidak kaku dan hambar yang hanya berkutat pada komunitas santri putra saja atau sebaliknya.

Ketiga, apakah mengaitkan ikhtilat kepada Said Aqil Siradj tidak menjadi sesuatu yang berlebihan? Dilansir dari hidayatullah.com, Syeikh Abdul Latif bin Abdul Aziz  mengungkapkan pandangannya bahwa “ikhtilat yang didasarkan pada toleransi, tidak bertentangan dengan apa-apa yang telah dinyatakan dalam buku-buku dan fatwa-fatwa kelompok yang mengharamkannya”. Jika ikhtilath masih dalam batas-batas kewajaran, sesuai dengan kebutuhan, dan tidak melampaui batas maka hal tersebut tidak menjadi haram.

Merujuk pada penutup film dimana terdapat promosi yang dilakukan oleh K.H. Said Aqil yang berduaan denga Livi Zheng, saya rasa tidak ada hal yang berlebihan yang dilakukan keduanya.

Keempat, Ada apa dengan Amerika? Apakah lantas warga Amerika juga memusuhi Islam? Berkaca pada Shamsi Ali, muslim Indonesia yang dipercaya menjadi imam di  Islamic Center of New York dan termasuk pendiri pertama pesantren di Amerika. Begitu juga Nadirsyah Hosen yang menjadi Profesor di Monash University, Australia. Kiprah mereka menjadi minoritas di tengah non muslim menjdai peluang dakwah dan diterima dengan luas masyarakat internasional. Bahkan arena dakwah muslim justru harus berada di tengah orang-orang yang belum memahami Islam. Dengan bekal agama di pesantren bukankah santri dapat menjadi dinamisator dalam berkehidupan yang majemuk?

 

Penutup

Penulis dalam hal ini tidak memosisikan diri sebagai bagian dari NU, Muhammadiyah dan ormas Islam lainnya. Penulis hanya mempertanyakan kemana budaya Islam Indonesia yang mengedepankan dialog dan diskusi terkait issue yang sensitif. Mengapa kita selalu spontan bereaksi pada sesuatu hal terlebih sebuah trailer yang isinya hanya cuplikan-cuplikan yang tidak komprehensif. penulis juga tidak dalam rangka memihak Livi Zheng. Akan tetapi sadarkah kita yang terlalu cepat menuding, menghardik dan memahami isi terbatas secara tekstual? Terlebih kita mendadak santri dalam dunia online, seolah kita adalah santri sebenarnya.

Maha benar netizen santri online dengan segala celotehnya.

Semoga Allah melindungi kita semua. Wllahua’lam bishowab.

 

husni

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *