Breaking News

Kode Etik Penyiaran

Nama: Natalia Krisnonica

Nim: 20170400010

Kode Etik adalah sekumpulan aturan atau patokan yang harus dihormati oleh pelaku profesi dibidang penyiaran. Pedoman Perilaku Penyiaran merupakan panduan batasan-batasan apa yang diperbolehkan atau tidak diperbolehkan berlangsung dalam proses pembuatan-pembuatan program televisi, sedangakan Standar Program Siaran merupakan panduan tentang batasan apa yang diperbolehkan dan atau apa yang tidak diperbolehkan ditayangkan dalam program siaran.

UU Penyiaran No. 32 tahun 2002 memuat sanksi atau hukuman bagi mereka yang melakukan pelanggaran terhadap ketentuan yang diatur dalam undang-undang ini.

Jenis pelanggaran dalam undang-undang terbagi atas dua, yaitu:

  1. Pelanggaran Kode Etik: yaitu hal yang terkait dengan upaya stasiun televisi menjaga etika dan moral ketika menyiarkan suatu program.

Pasal 42 undang-undang ini menyebutkan;”wartawan penyiaran dalam melakukan kegiatan jurnallistik media elektronik tunduk pada Kode Etik Jurnalistik  dan peraturang perundangan berlaku”.

  1. Pelanggaran teknik administrasi: misalnya, pelanggran ketentuan mengenai izin penyelenggaran siaran, ketentuan mengenai jangkauan siaran atua frekuensi siaran, ketentuan mengenai muatan lokal,ketentuan mengenai hak siar, ketentuan mengenai kepemilikan lembaga penyiaran, ketentuan mengenai laporan keuangan, dll.

Sanksi pidana terdiri dari membayar Rp 5 milyar atau pidana penjara 2 hingga 5 tahun, sedangkan sanksi administrative mulai dari teguran tertulis, penghentian sementara acara, pembatasan durasi siaran, hingga pencabutan izin penyelenggaran siaran.

Pasal 36 ayat (5) menyatakan isi siaran televisi dilarang:

  1. Bersifat fitnah, menghasut, menyesatkan dan/atau berbohong
  2. Menojolkan unsur kekerasan, cabul, perjudian, penyalahgunaan narkotika dan obat terlarang, atau
  3. Mempertentangkan suku, agama, ras dan antargolongan.

Pasal 36 ayat (6) menyatakan, isi siaran televisi dilarang memperolokan, merendahkan, melecehkan, atau mengabaikan nilai-nilai agama, martabat manusia Indonesia, atau merusak hubungan internasional.

Pasal 46 ayat (3) dalam hal menyiarkan iklan akan dilarang melakukan:

  1. Promosi yang dihubungkan dengan sutu agama, ideologi, pribadi, dan/atau kelompok yang menyinggung perasaan, dan/atau merendahkan martabat agama lain, martabat lain, pribadi lain atau kelompok lain.
  2. Promosi minum keras atau sejenisnya dan bahan zat adiktif
  3. Promosi rokok yang memperagakan wujud rokok
  4. Hal-hal yang bertentangan dengan kesusilaan masyarakat dan nilai-nilai agama
  5. Eksploitasi anak dibawah umur 18 tahun

Kode Etik Indonesia

Di Indonesia, standar buku kode etik jurnalistik yang sekarang berlaku disebut Kode Etik Wartawan Indonesia sesuai dengan pasal 7 ayat 2 UU No.40 tentang Pers. KEWI diteteapkan sebagai kode etik yang berlaku bagi seluruh wartawan Indonesia oleh Dewan Pers sebagaimana diamanatkan UU Pers.

  1. Wartawan Indonesia menghormati hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar.
  2. Wartawan Indonesia menempuh tata cara yang etis untuk memperoleh dan menyiarkan serta memberikan indentitas kepada sumber informasi
  3. Wartawan Indonesia menghormati azas praduga tak bersalah, tidak mencapurkan fakta dan opini, berimbang dan selalu meneliti kebenaran informasi serta tidak melakukan plagiat
  4. Wartawan Indonesia tidak menyiarkan informasi yang bersifat dusta, fitnah, sadis, cabul, serta menyebutkan identitas korban kejahatan susila.
  5. Wartawan Indonesia tidak menerima suap dan tidak menyalahgunakan profesi
  6. Wartawan Indonesia memiliki hak tolak, menghargai ketentuan embagrgo, informasi latar belakang dan off the record sesuai kesepakatan
  7. Wartawan Indonesia segera mencabut dan meralat kekeliruan dalam pemberitaan dan melayani hak jawab.
ilkom2017

2 thoughts on “Kode Etik Penyiaran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *