Teori Konvergensi Simbolik

Sejarah Teori Konvergensi Simbolik

Pada awalnya diilhami dari riset Robet Bales (tahun 1950-an) mengenai komunikasi dalam kelompok-kelompok kecil.

Lalu, Ernest Bormann meminjam gagasan tersebut untuk direplikasikan ke dalam tindakan retoris masyarakat dalam skala yang lebih luas. Teori ini disampaikan dalam tulisan “ Fantasies and Rethorical Vision: The Rethorical Critism of Social Reality ”.

 

Definisi Teori Konvergensi Simbolik

  • Istilah konvergensi = sebagai suatu cara dimana simbolik pribadi dari dua orang atau lebih saling bertemu, saling mendekati satu sama lain, atau kemudian saling berhimpitan (Bormann, 1990)
  • Istilah simbolik = terkait dengan kecenderungan manusia untuk memberikan penafsiran dan menanamkan makna kepada berbagai lambang, tanda, kejadian yang tengah dialami, atau bahkan tindakan yang dilakukan manusia (Bormann, 1986)

Jadi, teori konvergensi simbolik adalah percakapan yang memunculkan simbol / fantasi yang ditanggapi oleh kelompok-kelompok lain, sehingga penerima dan pemberi pesan satu sama lain mengerti maksud pesan yang disampaikan dan memiliki tujuan yang sama.

 

Istilah yang perlu diketahui di dalam Teori Konvergensi Simbolik

  1. Fantasy Theme (Tema Fantasi):
  • The content of the dramatizing message that sparks the fantasy chain. (Bormann, 1990). Borman mengartikan tema fantasi sebagai sebagai isi pesan yang di dramatisasi hingga menciptakan rantai fantasi.
  • Tema fantasi sebagai dramatisasi pesan, dapat berupa lelucon, analogi (kiasan), permainan kata, cerita, dll. (Miller, 2002)
  • Contoh, konflik yang muncul dalam pertemuan kelompok mungkin dilihat sebagai peristiwa dramatis. Tapi ini bukan dramatisasi pesan / tema fantasi karena hal itu terjadi dalam konteks “right here right now“. Sementara jika dalam kaitan tersebut kita cerita tentang konflik yang pernah terjadi di masa lalu / bercerita tentang konflik yang ada di dalam sebuah film. Maka ini bisa dikategorikan sebagai fantasy theme.
  1. Fantasy Chain (Rantai Fantasi):
  • “… as a series of ideas that member link together like a play.” (Bormann, 1990). Borman mengartikan rantai fantasi sebagai serangkaian ide yang para anggotanya tergabung bersama seperti sebuah fantasi.
  • Contoh: bayangkan kita lagi cerita-cerita dengan teman kita lainnya, tiba-tiba Yelsie ngomong tentang pacar. Nah tiba-tiba teman yang lainnya cerita juga kalau dia baru saja membeli hadiah ulang tahun untuk pacarnya, lalu temannya yang lain cerita juga kalo dia abis putus, dan cerita itu akan terus berantai. Jadi, ini bisa mengubah suasana kerja yang serius menjadi lebih energik dan positif. Dengan adanya saling berbagi fantasi ini, perpaduan dalam sebuah kelompok semakin terbentuk.
  • Terbentuk ketika pesan yang didramatisasi oleh anggota kelompok berhasil mendapat tanggapan dari anggota kelompok yang lainnya sehingga meningkatkan intensitas dan kegairahan dari para partisipan dalam berbagi fantasi.
  • Rantai fantasi yang sudah terbentuk akan menciptakan konvergensi simbolik dan landasan penyatuan makna bersama.
  1. Fantasy Type (Tipe Fantasi):
  • Tema-tema fantasi yang berulang dibicarakan pada situasi, karakter, dan latar belakang yang lain. Namun, dengan alur cerita yang sama. (Bormann)
  • Jika kerangka narasi sama, tetapi tokoh, karakter, atau settingnya berbeda, maka tema tersebut dapat dikelompokkan dalam satu jenis fantasi yang sama. Sedangkan, jika terdapat beberapa tema fantasi atau kerangka narasi yang berbeda, maka terdapat beberapa tipe fantasi.
  • Tipe fantasi merupakan kerangka narasi bersifat umum yang terkait dengan pertanyaan atau masalah tertentu. Mereka yang telah lama berinteraksi akan membuat Symbolic Cue yang dipahami bersama. Symbolic Cue tersebut biasanya menjadi inside joke (Trenholm, 1986).
  1. Rhetorical Visions (Visi Retoris):
  • Sharing a fantasy theme and types across under a wider community. Tema fantasi yang telah berkembang dan melebar keluar dari kelompok yang mengembangkan fantasi tersebut pada awalnya. Karena perkembangan tersebut maka tema fantasi itu menjadi fantasi masyarakat luas dan membentuk semacam Rhetorical Community (Komunitas Retoris).
  • Contoh, dalam masa sekarang kita lagi heboh dengan #2019GantiPresiden. Tagar tersebut membangun sebuah pesan yang ingin ditanggapi oleh semua pihak, sehingga menjadi budaya / kebiasaan. Dengan adanya pemakaian tagar tersebut, secara efektif dan sistematis berhasil menciptakan tema-tema fantasi yang kemudian menjadi visi retoris di kalangan masyarakat.

 

Tradisi Teori Konvergensi Simbolik:

Teori konvergensi simbolik termasuk dalam tradisi sosio-kultural. Tradisi sosio-kultural menunjukkan cara pemahaman kita terhadap makna, norma, peran, dan peraturan yang dijalankan secara interaktif dalam komunikasi dan dibentuk melalui interaksi kelompok, komunitas, dan budaya.

Jadi, teori konvergensi simbolik termasuk dalam tradisi sosio-kultural. Karena percakapan memunculkan simbol / fantasi yang ditanggapi oleh kelompok-kelompok lain (punya konteks yang sama, yang memang sedang berlangsung, dan punya culture dari masyarakat yang sama).

 

Teori Umum Teori Konvergensi Simbolik:

Teori umum teori konvergensi simbolik termasuk dalam teori konvensional dan interaksional. Teori konvensional dan interaksional adalah kehidupan sosial merupakan suatu proses interaksi yang membangun, memelihara, serta mengubah kebiasaan-kebiasaan tertentu (termasuk bahasa dan simbol) dan dianggap sebagai alat perekat masyarakat. Teori ini kerkembang dari aliran pendekatan interaksionisme simbolik, sosiologi, dan filsafat bahasa.

 

Teori Kontekstual Teori Konvergensi Simbolik:

Teori kontekstual teori konvergensi simbolik termasuk dalam teori komunikasi kelompok. Karena saat kita memulai percakapan dan memunculkan simbol-simbol, kelompok lah yang memberikan pesan (mem-produce pesan).

 

Metode Teori Konvergensi Simbolik:

Metode teori konvergensi simbolik menggunakan metode kualitatif. Karena metode kualitatif adalah penelitian tentang riset yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis. Proses dan makna (perspektif subjek) lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif.

 

Nama & NIM:

  • Canesha Tesalonika (20170400001)
  • Christian Apriyadi (20170400002)
ilkom2017

5 thoughts on “Teori Konvergensi Simbolik

  1. I¡¦ve been exploring for a little for any high quality articles or weblog posts in this kind of house . Exploring in Yahoo I at last stumbled upon this site. Reading this information So i am happy to exhibit that I have an incredibly excellent uncanny feeling I came upon exactly what I needed. I most certainly will make certain to don¡¦t forget this site and provides it a glance on a continuing basis.

Leave a Reply to Anonymous Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *